Nyatakan Perang, Jangan Pertanyakan

Sebuah pertanyaan. Metamorfosa pernyataan. Sebuah pembenaran. Yang mencari-cari kesalahan. Tidak terhitung berapa sayap akan terentang. Menuju pembuangan para pecundang. Hapus tatapan menantang. Jawab saja dengan pedang. Tak perlu rendah memandang. Ini perang.

Mencabut kata-kata. Sedikit merasa takut. Rasa bersalah yang ada. Seperti di ambang maut.

Pernyataan yang menyudutkan.
Pertanyaan tanpa jawaban.
Menyalahkan pembenaran.
Untuk sahabat yang keterlaluan.

Strategi Dusta, Rindu, Dan Tulisan Tak Bermanfaat

Jangan salahkan aku. Sungguh pahit tatapanmu. Beranjak dari ruang pandangmu, aku berlari. Sudah cukup. Aku mau lolos dari rasa ini. Takut. gugup. Semua berkecamuk. Dalam hati aku mengamuk, hanya itu. Mau apa lagi? mencari alasan tepat. Tak terdeteksi. Mencari alasan tepat. Membuat strategi. Strategi dusta tak bertepi.Kuhargai karyamu pada setiap relung hatiku. Sedikit banyak aku mau mati bersamamu. Tapi ternyata, aku terlalu muda untuk itu. Kuhargai pahatanmu pada palung hatiku. Terlalu banyak terima kasih yang tak terucap padamu. Kuhargai lukisan yang kau coretkan di pelupuk mataku.

Ini hanya monolog dua arah. Membuka celah. Pada setiap makian dalam aliran darah. Satu pertanyaan yang selalu muncul dan tak tersanggah. Aku, siapakah?

Pesan-pesan pendek kata maaf. Aku rindu dialogmu. Percakapan kita buntu. Andai kau lihat wajahku. Aku rindu dialogmu. Andai kau baca monolog ku. Kotak peraduan adalah wujudku. Extra besar pasti muat apapun itu. Tapi pernahkah kalian bertanya apa masalahku? Sungguh kalian selalu. Tapi menjawabnya aku malu. Terlalu. Sungguh tiada pantas telingamu mendengar keluh. Terlalu banyak peluh, saatnya manis itu kau rengkuh. Walau jauh.Ini cuma keluhan, tiada manfaat dalam kandungan. Strategi besar kebohongan. Sedikit pandangan. Maaf sedikitpun tak kuharapkan. Apalagi saran. Hanya sanggahan. Pertanyaan. Dan desakan pada sebuah keanehan yang kalian temukan. Pada setiap ketikan. Dan rasa bosan.

Bermanfaat? Tak akan.

Berkoar Di Atas Trotoar

Kenderaan tanpa perasaan berwarna kuning, hijau, merah, dan biru mengisi jalur sibuk mahasiswa dengan suara-suara tak bermakna. Penuhi telinga. Tak gubris seorang pria dengan seragam yang dibangga-banggakannya. Yang jadi penopang hidup keluarganya.Aku berdiri disebelah tempat sampah illegal yang tak pernah diusut siapa yang memulai. Sedikitpun tak ada bau bangkai. Indra penciuman tiada lagi memberi pesan damai. Tertutup oleh tirai. Sebuah barikade mobil personil LLAJ, asap, dan khalayak ramai.Beberapa mahasiswa baru berkoar tentang bagaimana sulitnya gelar “MAHASISWA” itu mereka capai.

Mendung, sesekali terdengar guruh. Gumpalan awan berisi air itu tiada juga runtuh. Tapi, pasti akan terkoyak oleh doa-doa penghapusan dosa, yang mereka lafalkan dari desa ke kota. Meminta yang kuasa agar segera mengirim malaikatNya untuk membantai iblis-iblis dalam tubuh mereka. Yang melelapkan mereka terus di waktu Subuh. Yang membuat tunas-tunas tak sanggup tumbuh, jadi lumpuh. Dan jadi penahan bagi doa-doa pengoyak gumpalan awan yang berisi air yang tak juga runtuh.Dan kemudian, proses itu akan kembali. Sampai sang waktu bosan menunggangi komedi putar rutinitas yang sudah dianggap basi.

Pandangan Bagi Sebuah Penderitaan

Apakah kau membenciku ketika kau tak butuhkanku?
Sebuah susunan. Membentuk bacaan. Memberi pandangan. Pada insan yang haus pengetahuan. Sebuah pandangan. Tentang kepercayaan. Yang kau telan terus tanpa saringan.

Apakah dunia sudah dimiliki oleh kepentingan?
Sudahkah duniamu?

Apakah kau membenciku ketika kau tak butuhkanku?
Apakah tak ada namaku dalam catatan keseharianmu?

Kotak peraduan adalah wujudku. Extra besar pasti muat apapun itu. Kapankah kau akan meluangkan waktu tanpa senyum palsu? Yang kau pasang entah kenapa sewaktu-waktu, waktu yang tak terprediksi oleh segala ilmu.Manisku, jangan kau rubah rasa kecap di lidah hati. Sudah terlalu kunikmati rasa ini. Bagaimana aku mau mulai lagi? Sudah bertahun ini kujalani. Bukan saatnya lagi bagiku mencari.

Sayang, pertunjukkan apa yang hendak kau pertontonkan?
Perasaan apa lagi yang ingin kau puaskan?
Inikah karyamu bertajuk “Menari Diatas Penderitaan”?

Keterlaluan.

Aku Rindu Kau Manisku..

Melaju dengan kecepatan yang tidak biasa, terlalu lambat. Sapuan angin bercampur gerimis, membatasi jarak pandang. Rasa kantuk menyerang. Berusaha terjaga. Berusaha berdiri tegak selayaknya pria. Mencari celah diantara lusinan lubang ciptaan cuaca dan tekanan pada jalurku. Saat lalu, selalu rangkulmu dibalik punggungku.Aku rindu kau manisku..

72 jam sudah aku rasa sesak. Rasaku tak tertebak. Berjumpa sahabat aku terbahak. Kemudian saatnya tiba, oleh air mata aku tersedak. Inikah rasanya terdesak?

Tak pernah muncul pertanyaan baru. Hanya selalu, “Kapan kau akan datang lagi ke sampingku?”

Aku rindu kau manisku..

Jemari Pembuka Pandora, Dan Dilema Kala Senja

Penemuan terbaru. Hulu ledak dengan nafas berat. Bom Hardcore penyebab tawa membeku. Menikmati sengatan listrik epileptik budaya barat. Bangga menyaksikan moshpit penuh tinju dan lemparan batu.

Mata tertuju pada boot tertetes tuak. Saat teriakan kami menyeruak mengimbangi amarah kalian, cukup sudah kami merasa muak.

Persamaan itu pilihan.
Perbedaan itu mutlak.

Menebar bibit, menitip benih. Pada setiap kantung kemih yang kau isi dengan arak putih. Mari berfikir picik. Kita ubah generasi dengan cara melempar mikrophon tanpa mengucap kalimat mendidik. Mari berfikir sempit. Acungkan jari tengah pada sahabat yang optimis saat kau bergelar “pailit”.

Membuka Kotak Pandora. Memaksa keluar tenaga. Bertatapan mata. Sahabat adalah saling menjaga. Berebut lahan. Cabut patok-patok mereka. Kubur mimpi-mimpi mereka. Bakar kota mereka. Saat dingin tiba, menyusul angin maaf menyelusup melewati jendela. Terhalangi Cerberus yang angkuh menatap dengan enam matanya. Sang maaf berputar arah. Saat itulah senja.

Berlarut-larut pada kepingan luka. Membekukan tawa. Dendam dan dendam lainnya melahirkan dilema. Kemudian saat dia dewasa, berganti nama menjadi angkara. Memiliki teman imajiner bernama murka. Jadilah sesal mengendap. Pada dasar hati yang paling gelap. Bercumbu di semak tempat hewan berderap. Jadikan engkau seperti supir angkot kalap.

Berubah

Tak akan pernah datang pada setiap warna yang ku jelang. Pada setiap bahagia yang ku nanti-nantikan. Pada setiap air mata yang ku curah. Aku tak berubah. Mungkin kau jengah. Aku, inilah. Sebentuk tubuh dengan arwah. Secuil akal sepenggal budi. Terasuk cinta dan benci. Disela-sela jemari yang kuratapi saat kau pergi. Aku tenggelam sendiri. Aku, dimana kini?

Menjadi diri sendiri itu mimpi.
Ini waktu menjual diri.

Perubahan itu sampah. Sekarat aku kian terengah. Ombak telah membawaku ke tengah. Terlambat sudah.

Bermanfaat? Ah, sudahlah..

Dewasa Itu…

Aku hanya akan menjadi dewasa ketika aku bersama diriku. Memeluk kertas dan pena menjadi satu. Atau jemari yang menari menjamah keyboard suatu waktu. Dalam balutan nafsu.

Mengucur air mata dari pori-pori yang dijembatani helai rambut. Pada jari kaki bertumpu. Bertahan pada posisi yang menyakitkan itu. Saling sikut dalam remang malam tanpa rambu. Aku lupa pada cahaya lampu. Bertiup angin konstan mengirimkan bau. Bau abu.
Tertata rapi dan terorganisir. Menjadikannya mirip sipir. Menjaga setiap jengkal lingkungan orang kafir dan berfikir, “Bagaimana caranya hidup penuh dosa namun kemudian mati sebagai martir?”

Manusia munafik itu takdir. Berlagak kikir nyatanya fakir. Mengaku shafir nyatanya kerikil.

Berakhir.

Cuma Mau Berteman

Sial..
Kami belum kalah. Cuma peluru kami yang habis. Semangat masih ada.

Amunisi terbatas, kau semakin beringas. Percuma memang, tapi kau sudah meretas dalam telur yang siap kami tetas. Pada suatu hari yang tanpa batas. Tanpa bermaksud ingin membalas. Kami bangkit dari tamparanmu yang luar biasa keras. Terasa panas. Dan mengulurkan tangan. Itu masalahmu, kami cuma mau berteman. Andaikan.


Aku takut..

Aku takut. Berawal dari bayangan dalam mimpi tak berwajah. Yang mempertanyakan, “Mengapa hidupmu tak berwadah?”. Aku takut. Pada setiap detik jam pagi hari. Yang membangunkanku dengan perasaan seperti manusia tak tahu diri. Aku takut. Pada jalan yang kutempuh. Yang mengaduh saat kulayangkan pandang ke belakang. Menatap sesuatu yang kutinggalkan. Namun memaksa untuk kembali digenggam. Sebuah kesalahan melawan sebuah pembenaran. Aku yang menjerit saat didalam kepalaku kalian adu parang.

Inikah hidup wahai Penguasa alam Yang Maha Memandang? Kesalahan yang mencari pembenaran? Pembenaran yang menyudutkan kebenaran? Dan sebuah pertanyaan tanpa jawaban? Kenapa aku begitu takut individu lain dikecewakan? Sementara aku dipaksa untuk tidak boleh memperbaiki kesalahan. Haramkah hidup dengan kesenangan? Kepingan yang didapat dari kepuasan. Kepingan yang dibuat dengan cinta dan pengorbanan.

Aku takut. Pada seseorang didalam cermin. Yang memandang ketakutan keluar cermin. Memandangku seolah akulah penyebab. Pada setiap derap rasa takut yang datang dengan penuh harap. Menggerogoti isi jantung dan memaksanya bekerja lebih cepat. Biadab. Memaksanya jatuh terjerembab. Dan menertawainya karena mempercayai masa depan yang mereka anggap gelap.Aku takut. Pada mimpi apa lagi aku bertaut? Menguap bercak berwarna hitam dilangit seiring mendung bergelayut. Mencari wajah bersahabat sang maut…Aku selalu takut.