skip to main |
skip to sidebar
Beragam dalih terujar oleh lidah.Kita tegaskan dosa tanpa rasa bersalah.Menoreh arang di wajah.Era berubah, kita bangga menjadi sampah!
Batas dijengkal.
Batas dilewati.Batas direnggut.Batas dikhianati.
Karena setiap argumen memiliki argumen balasan.Dan setiap tindakan memiliki alasan.Maka pada suatu saat, kita akan dapat berdesak-desakan pada ruang tanpa batasan.Dan kemudian diam.Karena diam adalah jawaban yang pantas* untuk argumen tolol.
*Irving Karchmar, "Sang Raja Jin".
Cinta yang bagaimana?Cinta yang membuatmu tertawa dan membuatmu tetap kanak-kanak?Atau cinta yang membuatmu tua, menderita dan meregang nyawa?Oh pengendara raksasa belantara, kini aku berurai air mata.Oh penari ambigu, kini setiap bendungan tak mampu menahan laju.Dari rangkai tajam peluru dan rasa takut yang menghujam setiap detik kupejam mataku. Atau kubuka?Kemudian canda dan cinta bunda yang menakutiku. Warna sepi yang semakin kupuja. Letih yang selalu ingin kuakrabi. Atau kumusuhi?Karena mengikuti nalar sungguh aku tak punya nyali.Jadilah aku menangis tanpa sembab.Dan kau, jadilah temanku yang tak terlalu akrab.
Pijakanku tak setegar dulu. Aku tak pernah tahu apakah duniamu memberiku waktu. Dan bagiku, jalur itu berarah satu. Tak ada istilah ragu.Aku dipelototi oleh bola mata keresahan yang aku ciptakan sendiri. Tenang saja, ujarmu pasti. Penawarku adalah utopia yang terlalu dini. Racun itu bernama elegi.Menari di ruang sempit. Berbisik di sela jerit. Aku tak akan berhenti hanya karena sedikit rasa sakit. Berapa lama aku akan bertahan dengan kerongkongan terbelit dan bergelantungan di hitamnya langit?
Demi rasa terasing yang kurasa saat surya menyingsing. Dari waktu bisu hingga bising. Hidup berputar tak tentu serupa gasing. Aku mulai mencari celah pada sekat rasa yang mulai membuat otakku miring. Menghadapkan kepala ke dinding. Tak bergeming.Aku tidak berupa dua!Aku tidak berpura-pura!Aku diam saja atau sebaliknya?Berkata cinta lalu diam seribu bahasa?Kemudian nafas itu mengalun memenuhi ruang. Memberi polesan terbaik pada perabotan dan prosa tentang perasaan.Bila padamu ikatan tidak menjanjikan apa-apa, percayalah padaku yang meyakini rasa dan perasaan.Dari nikmat Tuhan Yang Tak Berkesudahan.
Menelusuri labirin waktu berbahan baja.Kami bertemu dan bercengkrama dengan sang masa.Kami tegaskan dan teriakkan di hadapan wajahnya.Selamanya kami muda!