Aku Selalu Sendirian

Setiap ilalang adalah parang.
Setiap ucap adalah hinaan.

Telingaku dibungkam.
Dikuasai kemarahan.

Murka.

Kemudian aku lupa.

Aku lalu tuli.
Sesaat bisu dan murka lagi.
Berputar tak henti.

Sinergi.

Paru-paruku sesak oleh pertanyaan.
Jawab! Sungguh keras teriakan.
Di pojokan aku ditekan.
Aku lelah. Aku menerobos menyeruak mencari ruang.
Tak ada siapapun di belakang, di depan, kiri dan kanan.

Hanya khayalan?

Aku selalu sendirian.

Kau Bukan Beban

Pencari cahaya berhenti mencari. Mulai meraba sepi.
Adaptasi.

Isyarat dan alur ruang terbentuk. Dari tetes air mata di pelupuk dan disudut petakan terpuruk.

Kesamaan bukan alasan. Hanya mencari teman yang membuat kita membebani persendian dan penjarian. Bahu menjadi kaku menahan beban. Mata menderita radiasi warna dan pencahayaan.

Pagi sayup meneriaki malam. Mataku terpejam.

Rindu Saja

Oh, aku tak akan gila. Namun tentu saja nyaris gila.

Tak perlu kau dikte aku cara menyebut namamu dari waktu-waktu yang kureguk pahit. Tanpamu rasanya sakit. Bait hanya sebuah bait. Tak lebih buruk hanya karena rimanya sedikit. Juga tak kusebut lebih baik.

Tak akan pernah membuktikan kalau ini semua berharga. Atau murahan.

Aku rindu saja.