Cerita Hujan Darah Di Lembar Amarah

Kenapa harus kau pertanyakan?
Khilaf menebas jari kakiku hingga terpincang. Dan aku terseok mengejarmu. Namun kau meneriakiku.

Menjauh! Pergilah!

Sahabat, aku rasa pilu.

Hingga kantuk menoreh tandanya, aku merasa menyalahi kepercayaan kita mengenai kata "percaya".

Aku mau suaramu.

Hingga rantai kataku tak kau gubris. Dan diam adalah inginmu setelah menangis.
Baiklah, aku adalah yang berbuat salah. Aku mengumpat diri hingga tak ada hari yang cerah. Hingga reda hujan darah. Hingga hanyut lembar amarah.

Oleh rasa sakit kau rasa lelah?
Tidurlah.

No comments:

Post a Comment