Argumen

Karena setiap argumen memiliki argumen balasan.
Dan setiap tindakan memiliki alasan.
Maka pada suatu saat, kita akan dapat berdesak-desakan pada ruang tanpa batasan.

Dan kemudian diam.

Karena diam adalah jawaban yang pantas* untuk argumen tolol.




*Irving Karchmar, "Sang Raja Jin".

5 comments:

  1. oh, bukan itu poinku dek.
    aku diam bukan mengalah. tapi, untuk apa berdebat dengan kebodohan?
    karena hasilnya pasti bodoh juga.

    ReplyDelete
  2. spontanitas apa tindakan beralasan,? berpikir dan berjiwa besar untuk mengerti argumen tolol, apa kita harus diam dengan penjabaran argumen yang di maksud??

    senyum lebih indah dari pada harus diam.
    hehehehhee

    pak yos, aku buat blog baru, kunjungi yah..

    ericcritic

    ReplyDelete
  3. eh, ada eric. :)
    menanggapi komentarmu, sponanitas mungkin. dasar sikapnya kejenuhan. maksudku, keputusan diam itu lahir dari kejenuhan. singkatnya, aku orang yang sangat mudah jenuh. jadi, kalo udah malas berdebat, ya diam saja. atau aku adalah orang yang malas berdebat? itu juga kemungkinan terbesar. "predikat "bodoh" itu adalah penilaian sepihak. jadi sifatnya sangat egois dan personal..
    hehehehehehe...
    jadi udah gak bisa diubah lagi. sudah mengakar!

    makasi ya ric dah maen-maen ke blogku.

    ReplyDelete
  4. memang kejenuhan tak lepas dari tata kemanusiaan. aku mengerti kok pak yos :)
    panggambaran ini sedikit buat aku ngerti tentang pak yoss karena aku juga seorang pemalas debatan. tapi aku berusaha untuk mencintai apa yang di debatkan :)
    perbedaan penjabaran adalah keegoisan individual, aku setuju dengan ini layak manusia yang beda jam makan. :D


    jangan jenuh sama ku ya pak yos :P

    makasih juga uda mau balas comment ku pak yos.
    :)
    hehehhee

    ReplyDelete